Page

Jumat, 04 Maret 2011

Tabuh Perang

Lantunan Adzan menyadarkanku dari lamunan,
Kepenatan dunia menumpuk dalam ubun, memberontak
Kutahu fitrahku sebagai ciptaanNya akan melawan,
Namun mereka sama-sama tidak berpita,
Hingga ku tidak tahu yang mana yang harus kujadikan sekutu.

Akalku membenarkan keduanya,
“Ini juga baik, kok,” sahutnya ringan.
Namun akal hanyalah akal yang hanya mampu berfikir secara logis.
“Ini baik, kok, tapi ... “ gumamnya menimbulkan tanda tanya besar dalam hatiku.

Selanjutnya akal masih mengambil alih,
Sedikit demi sedikit ia kubur fitrahku,
Menjadikannya semu dalam aliran kegalauanku,
Akal mengurai pengalamanku,
Mengelompokkannya menjadi pengalaman yang enak dan tidak enak
Membuatku berfikir dua kali saat aku berperang,
Karena di mana-mana .. berperang itu tidak enak, kan?

Dalam berperang, mundur bukanlah pilihan,
Karena hasil perang cuma dua : menang atau kalah.
Mundur dari kemenangan? Tindakan alasan untuk semua pengecut.
Mundur dari kekalahan? Perang tak butuh orang yang ketakutan.

Dan kemenangan sudah dijanjikanNya,
Berulang-ulang diutarakan dalam surat-surat cintaNya,
Di ujung aliran kebingungan, sesuatu berdiri kokoh menjadi bendungan.
Ialah keyakinan, yang menepis segala ragu, galau, atau rasa tak mampu.

Yakin atas janji-janjiNYA, itu sudah cukup.
Lakukan yang terbaik, selama ruh masih dalam jasad.
Jangan berpura-pura lupa, bahwa Allah Maha Tahu.